Pulau Yang Tak Pernah "Galau"
(sebuah catatan kecil dari rangkaian kegiatan RAKER KKG PAI Kec. Pakal tahun 2019)
Perjalanan laut dengan perahu motor sekitar 45 menit dari bibir pantai Probolinggo harus dilakukan untuk mencapai pulau ini. Pulau/desa Gili Ketapang memang sebuah pulau kecil. Dan hanya terdiri satu desa di wilayah kecamatan Sumberasih kabupaten Probolinggo.
Dalam rangkaian perjalanan kami dalam kegiatan RAKER KKG PAI KEC. PAKAL SURABAYA, ada satu hal yang menarik yang sempat kami dengar dari seorang penumpang yang memang beliau adalah penduduk asli pulau Gili Ketapang.
"Eksotisitas pulau Gili yang mengundang datangnya wisatawan tidak serta merta melunturkan adat istiadat penduduk yang ada." begitulah kata beliau.
Jadi maaf buat teman-teman yang mau cari penginapan di sana atau hiburan yang sedikit mengundang syahwat. Tentu anda salah alamat. Karena ada peraturan desa Gili yang isinya antara lain :
1. Tidak boleh mendirikan penginapan, losmen, hotel dan semisalnya.
2. Tidak boleh berkemah, camping dll. Jadi kalau snorkling jangan terlalu sore. Takutnya pulangnya kesorean dan ombak tinggi, bisa dipastikan tidak menemukan tempat menginap. Kecuali kalau punya saudara di situ.
3. Semua kegiatan wisata wajib dihentikan pukul 16.30 WIB. Terutama snorkeling wajib "off".
4. Tidak boleh mendirikan rumah hiburan atau semacam cafe remang-remang.
Dan menurut keterangan beliau juga, dulu sekitar tahun 90-an pernah ada peraturan desa yang melarang semua kegiatan melaut setiap hari Jum'at. Namun sekarang peraturan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Hanya kegiatan snorkeling saja yang dilarang setiap Jum'at mulai pagi sampai habis Jum'atan. Baru selesai sholat Jum'at bisa dilakukan.
"Yakinlah, pulau Gili tidak pernah galau dengan penghasilan yang ada. Dan tidak pernah silau dengan rayuan materi yang menggoda. Ini demi menjaga norma dan agama di sana," imbuhnya. (zen)







1 komentar:
Terima kasih bunda... Banyak hal yg kami dapat di sana. Ada juga pesantren yang tetap kokoh dengan hanya kurikulum pondok (ngajinya).
Sementara kurikulum Dikdas hanya suplemen aja... Tapi belum sempat kami reportasekan
Posting Komentar